Dan akhirnya,,, setelah sekian lama mencari serta mengingat password untuk buka blog ini. Ketemuuuuuu.
Hampir saja kehilangan blog untuk kedua kalinya.
Dan akhirnya lagi,,, bisa posting dech...
Teman,,, kali ini saya tidak posting puisi, walaupun sebenarnya sudah ada beberapa stock yg antri hehee.
Mau shear sedikit kenangan waktu itu.
Malam ini, jam dikamarku sudah menunjukkan pukul 24.14 wita. Orang-orang rumah sudah pada nyenyak. Sementara tetangga yang biasanya ramai n gaduh sampe pagi, kali ini gak tau kemana. Tapi enak juga kalau begini terus, ortu sama dua ponakan kecilku bisa tidur nyenyak.
Mungkin karena sepi, malam ini rinduuu,,, rinduuuuu sekali dengan masa dan tempat itu.
Masa ketika saya harus meninggalkan seluruh keluarga dan teman-teman untuk mengabdi di tempat yang begitu asing. Tidak ada teman apalagi saudara.
NTT,,, yahhh NTT adalah tempatnya.
Berbekal keberanian dan semangat untuk mengabdi, akhirnya harus kutinggalkan kota Manado tercinta. Kota yang telah mengajarkan arti pentingnya pengorbanan.
Orang tuaku sepertinya kurang ikhlas untuk melepas. Bisa kulihat dari pancaran mata dan nada bicara mereka. Secara, anak gadis mereka harus pergi sendiri ke tempat yang belum dikenal, dan mungkin karena ini adalah kali pertama kami harus terpisah jauh dan lama.
Yaa iyalah,,, jangan mereka saya saja masih ragu untuk pergi. Buktinya tiket belum di booking sementara besoknya sudah harus berangkat. Walhasil kira-kira jam 23.00 wita tiketnya baru kebeli. Itupun setelah membangunkan teman yang punya travel. Padahal info kepindahan ini sudah seminggu disampaikan. Bahkan packing pun baru dilakukan jam 01.00 dini hari.
Berbekal keberanian dan ikhlas Lillahi Ta'ala, pagi itu saya berangkat. Diantar kedua orang tua dan ditemani seorang tetangga, perjalanan ke bandara tersebut terasa hening. Tidak ada yang ngobrol dan mencoba mulai memecahkan kesunyian ini. Seingat saya, perjalanan ke bandara yang kurang lebih 20 menit itu hanya di ramaikan oleh suara bising kendaraan n alunan merdu Iwan Fals.
Ting,,, tong...
Di lobi bandara terdengar suara merdu memanggil hehee, perhatian-perhatian penumpang pesawat batavia air dengan nomor penerbangan ...."lupa nomornya.... diharap untuk segera naik ke pesawat.
Akhirnya kebersamaan itu usai juga. Saat cipiki/ka ortu pesan, hati-hati di tempat orang dan harus pintar-pintar membawa diri. Sementara tetanggaku yang ikut mengantar bilang, pasti kamu kan ketemu jodoh disana ---hehee hampir sich.--- Tidak ada tangis di mata, tetapi saya yakin dihati mereka ada tangis yang terisak.
Mencoba menahan air mata walau hati ini pedih harus meninggalkan mereka dimasa tuanya.
Di dalam pesawat, akhirnya jatuh juga bulir air mata itu.
Sembari menunggu penumpang yang lain naik, saya sempat mengirim sms ke seorang teman karena untuk pamitan secara langsung keteman-temanpun tidak sempat dilakukan. Di sms itu saya tulis "mohon maaf atas segala kesalahan, saya harus berangkat oleh karena sebuah pilihan yang harusnya tidak menjadi pilihan" salam saya untuk teman-teman yang lain.
Sulit memang ketika harus memutuskan untuk pindah ke NTT. Meninggalkan semua.
Setelah kurang lebih 13 jam perjalanan dan transit di dua bandara, tibalah saya di bandara El Tari Kupang. Bandara yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Sam Ratulangi Manado. Langsung telpon ortu memberitahukan kalau sudah sampai, karena sepanjang hp aktif tidak henti-henti mereka telpon dan sms.
Jam 8 malam, ditempat yang asing, gak dijemput pula. Masih berbekal keberanian dan ikhlas Lillahi Ta'ala, saya panggil taksi untuk ke hotel Cendana. Tempat dimana teman-teman yang baru bergabung dengan program pemberdayaan ini dilatih.
Perjalanan dari bandara ke hotel kurang lebih 35 menit, melewati sedikiat areal hutan dan perkebunan, rumahnya pun masih jarang dan agak berjauhan. Kupang adalah kota kecil dan sepi pada waktu itu, belum tau kalau sekarang mungkin sudah ramai. Sepanjang perjalanan pun proses membandingkan dimulai hehee. Hanya memiliki 1 mall yang gak terlalu besar kata pak sopir. Yang saya lihat jauh dari hiruk pikuk ibukota propinsi seperti biasanya pun gak sehingar-bingar kota manado. Kota Kupang itu seperti kota Gorontalo ---kampung halamannya papa saya--- Penduduknya pun kulitnya agak-agak gelap, bahkan kalau siang pusat pertokoan ditutup persis seperti di Gorontalo. Gak tau apakah ini bagian dari strategi untuk menekan gaji karyawannya atau mungkin memberi kesempatan pada karyawannya agar bisa tidur siang juga seperti majikannya. :)
Hampir jam 21.00 tiba di hotel Cendana. Dan akhhhh sialnya lampu padam, jadi disambut dalam keadaan gelap gulita oleh tim konsultan wilayah.
Setelah say hello dengan team leader dan beberapa tenaga ahli dari konsultan, akhirnya saya diantar kekamar untuk beristirahat. Kami semua memang sama-sama capek. Mereka capek melatih dan saya capek berkelana di udara.
Malam itu 14 Juli 2006, setelah bersih-bersih saya pun tidur dengan sebait doa "YAA RABB, TERIMA KASIH TELAH ENGKAU TIBAKAN HAMBA DENGAN SELAMAT. YAA RABB, JAGA DAN LINDUNGI KEDUA ORANG TUA HAMBA".
Teman,,, sampai sini dulu yah nanti lanjut lagi dengan episode hari baru di kota Kupang. Saya juga sudah mau tidur, kalau kata orang Manado so manganto...
THE END...
00.05 wita
Hampir saja kehilangan blog untuk kedua kalinya.
Dan akhirnya lagi,,, bisa posting dech...
Teman,,, kali ini saya tidak posting puisi, walaupun sebenarnya sudah ada beberapa stock yg antri hehee.
Mau shear sedikit kenangan waktu itu.
Malam ini, jam dikamarku sudah menunjukkan pukul 24.14 wita. Orang-orang rumah sudah pada nyenyak. Sementara tetangga yang biasanya ramai n gaduh sampe pagi, kali ini gak tau kemana. Tapi enak juga kalau begini terus, ortu sama dua ponakan kecilku bisa tidur nyenyak.
Mungkin karena sepi, malam ini rinduuu,,, rinduuuuu sekali dengan masa dan tempat itu.
Masa ketika saya harus meninggalkan seluruh keluarga dan teman-teman untuk mengabdi di tempat yang begitu asing. Tidak ada teman apalagi saudara.
NTT,,, yahhh NTT adalah tempatnya.
Berbekal keberanian dan semangat untuk mengabdi, akhirnya harus kutinggalkan kota Manado tercinta. Kota yang telah mengajarkan arti pentingnya pengorbanan.
Orang tuaku sepertinya kurang ikhlas untuk melepas. Bisa kulihat dari pancaran mata dan nada bicara mereka. Secara, anak gadis mereka harus pergi sendiri ke tempat yang belum dikenal, dan mungkin karena ini adalah kali pertama kami harus terpisah jauh dan lama.
Yaa iyalah,,, jangan mereka saya saja masih ragu untuk pergi. Buktinya tiket belum di booking sementara besoknya sudah harus berangkat. Walhasil kira-kira jam 23.00 wita tiketnya baru kebeli. Itupun setelah membangunkan teman yang punya travel. Padahal info kepindahan ini sudah seminggu disampaikan. Bahkan packing pun baru dilakukan jam 01.00 dini hari.
Berbekal keberanian dan ikhlas Lillahi Ta'ala, pagi itu saya berangkat. Diantar kedua orang tua dan ditemani seorang tetangga, perjalanan ke bandara tersebut terasa hening. Tidak ada yang ngobrol dan mencoba mulai memecahkan kesunyian ini. Seingat saya, perjalanan ke bandara yang kurang lebih 20 menit itu hanya di ramaikan oleh suara bising kendaraan n alunan merdu Iwan Fals.
Ting,,, tong...
Di lobi bandara terdengar suara merdu memanggil hehee, perhatian-perhatian penumpang pesawat batavia air dengan nomor penerbangan ...."lupa nomornya.... diharap untuk segera naik ke pesawat.
Akhirnya kebersamaan itu usai juga. Saat cipiki/ka ortu pesan, hati-hati di tempat orang dan harus pintar-pintar membawa diri. Sementara tetanggaku yang ikut mengantar bilang, pasti kamu kan ketemu jodoh disana ---hehee hampir sich.--- Tidak ada tangis di mata, tetapi saya yakin dihati mereka ada tangis yang terisak.
Mencoba menahan air mata walau hati ini pedih harus meninggalkan mereka dimasa tuanya.
Di dalam pesawat, akhirnya jatuh juga bulir air mata itu.
Sembari menunggu penumpang yang lain naik, saya sempat mengirim sms ke seorang teman karena untuk pamitan secara langsung keteman-temanpun tidak sempat dilakukan. Di sms itu saya tulis "mohon maaf atas segala kesalahan, saya harus berangkat oleh karena sebuah pilihan yang harusnya tidak menjadi pilihan" salam saya untuk teman-teman yang lain.
Sulit memang ketika harus memutuskan untuk pindah ke NTT. Meninggalkan semua.
Setelah kurang lebih 13 jam perjalanan dan transit di dua bandara, tibalah saya di bandara El Tari Kupang. Bandara yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Sam Ratulangi Manado. Langsung telpon ortu memberitahukan kalau sudah sampai, karena sepanjang hp aktif tidak henti-henti mereka telpon dan sms.
Jam 8 malam, ditempat yang asing, gak dijemput pula. Masih berbekal keberanian dan ikhlas Lillahi Ta'ala, saya panggil taksi untuk ke hotel Cendana. Tempat dimana teman-teman yang baru bergabung dengan program pemberdayaan ini dilatih.
Perjalanan dari bandara ke hotel kurang lebih 35 menit, melewati sedikiat areal hutan dan perkebunan, rumahnya pun masih jarang dan agak berjauhan. Kupang adalah kota kecil dan sepi pada waktu itu, belum tau kalau sekarang mungkin sudah ramai. Sepanjang perjalanan pun proses membandingkan dimulai hehee. Hanya memiliki 1 mall yang gak terlalu besar kata pak sopir. Yang saya lihat jauh dari hiruk pikuk ibukota propinsi seperti biasanya pun gak sehingar-bingar kota manado. Kota Kupang itu seperti kota Gorontalo ---kampung halamannya papa saya--- Penduduknya pun kulitnya agak-agak gelap, bahkan kalau siang pusat pertokoan ditutup persis seperti di Gorontalo. Gak tau apakah ini bagian dari strategi untuk menekan gaji karyawannya atau mungkin memberi kesempatan pada karyawannya agar bisa tidur siang juga seperti majikannya. :)
Hampir jam 21.00 tiba di hotel Cendana. Dan akhhhh sialnya lampu padam, jadi disambut dalam keadaan gelap gulita oleh tim konsultan wilayah.
Setelah say hello dengan team leader dan beberapa tenaga ahli dari konsultan, akhirnya saya diantar kekamar untuk beristirahat. Kami semua memang sama-sama capek. Mereka capek melatih dan saya capek berkelana di udara.
Malam itu 14 Juli 2006, setelah bersih-bersih saya pun tidur dengan sebait doa "YAA RABB, TERIMA KASIH TELAH ENGKAU TIBAKAN HAMBA DENGAN SELAMAT. YAA RABB, JAGA DAN LINDUNGI KEDUA ORANG TUA HAMBA".
Teman,,, sampai sini dulu yah nanti lanjut lagi dengan episode hari baru di kota Kupang. Saya juga sudah mau tidur, kalau kata orang Manado so manganto...
THE END...
00.05 wita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar